Himbauan

Para Anggota Pesikian Swa Wandawa Yth, tolong isi poling berikut ini. Terimakasih.

Apa pendapat anda tentang keberadaan Merajan Ageng Karangenjung?

kori

kori
puri karangenjung
Powered By Blogger

Jumat, 08 Juli 2011

DUKA MENDALAM ATAS KEPERGIANNYA

Uraian singkat ini adalah wujud rasa hormat penulis kepada almarhum I Gusti Agung Ngurah Rai Ardana (wafat tanggal 14 Maret 2008), dr. I Gusti Agung Nyoman Adhi Yasa (wafat tanggal 21 Juni 2008), I Gusti Agung Ngurah Sumerta, ST (wafat tanggal 1 Juli 2008), dan I Gusti Agung Putu Panji Wirawan (wafat tanggal 9 Agustus 2008). Saat mendengar berita kepergian beliau, penulis hanya terdiam namun di sisi lain benak dan pikiran terbawa oleh kesan penulis pada almarhum ketika beliau masih ada. Ketika dialog antar pribadi masih terjalin, banyak hal yang telah terbangun, wujudnya adalah kesan penulis tentang almarhum. Bangunan itulah yang ingin penulis ungkapkan di sini. Namun kemampuan menuangkan dalam tulisan adalah faktor keterbatasan penulis. Sehingga pastilah tulisan ini banyak kekurangannya. Sekali lagi, kekurangan itu bukan terletak pada “bangunan yang telah terwujud itu”, tetapi semata-mata pada cara penulis mengekspresikannya.

Tulisan ini juga dimaksudkan sebagai wujud simpati pada keluarga yang ditinggal yang dalam keseharian selanjutnya tanpa didampingi orang yang dicinta itu. Pastilah kepergiannya dirasa sebagai kehilangan; kehilangan suami, kehilangan ayah, kehilangan kakek, dan banyak wujud kehilangan lain. Tetapi di atas semua kehilangan itu ada satu wujud kehilangan yang sangat berarti yaitu kehilangan tempat berbagi; tempat mencurahkan kegembiraan saat bergembira dan tempat bersandar pada saat berada pada kesedihan. Betapapun beratnya perpisahan ini namun harus diterima apa adanya. Semua ini terjadi karena kehendak ”Keberadaan Yang Tertinggi” di atas sana. Sebagai manusia kita hanya menjalani saja.

1. I Gusti Agung Ngurah Rai Ardana

Sejak masih kanak-kanak beliau dikenal punya otak cerdas. Setamat sekolah beliau mengabdikan diri sebagai PNS pada Kantor Wilayah Departemen Perdagangan di Denpasar. Beliau adalah tipe pekerja keras dan karena prestasinya dipercaya memegang berbagai jabatan penting. Beliau pernah mendapatkan penugasan di Lampung dan mendekati usia pensiun ditugaskan di Surabaya. Dari pernikahannya dengan I Gusti Ayu Alit, beliau dikaruniai 6 anak (4 perempuan dan 2 laki-laki). Satu hal yang membanggakan adalah beliau bersama istri telah berhasil mengantarkan putera-puterinya bisa mandiri. Dalam berbagai kegiatan usaha, beliau suka bereksperimen. Pengelolaan bemo pernah dilakoni yang memang ketika itu kalkulasinya menguntungkan. Ketika peternakan ayam petelor menjanjikan, beliau menekuni usaha itu dan mengadakan kerja sama dengan perusahaan jamu Cap Jago sebagai penampungan hasil telornya. Ada satu hobi yang beliau tekuni hingga menjelang akhir hayatnya yaitu merawat tanaman bunga dan anggrek. Hobi yang tidak hanya memberikan kesejukan , tetapi juga kecintaan lewat keindahan bunganya. Hobi yang cocok dengan suasana kebatinan menjelang seseorang memasuki usia pensiun. Beliau berpendapat, kedepan keperluan akan bunga terus meningkat. Tidak hanya sebatas keperluan sarana sembahyang dan hiasan tetapi telah merambah dalam berbagai wujud ekspresi baik sebagai simbul kegembiraan atau rasa duka. Pendek kata bunga punya seribu satu makna, yang tentu ke depan semakin banyak ungkapan menggunakan bahasa bunga. Bunga telah menjadi mata dagangan dan bila ditekuni secara serius nilai rupiahnya bukan main.

Selanjutnya semenjak pensiun beliau banyak berkecimpung dalam kegiatan sosial keagamaan. Beliau mendapat kehormatan dikukuhkan sebagai uger di Pura Dalem Paruman Sembung. Bersama masyarakat beliau melakukan pemugaran pura secara besar-besaran. Demikianlah hari-hari beliau penuh berbagai aktivitas. Kesibukan itu rupanya menyebabkan beliau keasikan sehingga selalu merasa sehat, padahal sudah mulai ada gejala gangguan kesehatan. Sesuatu yang sulit dipercaya kesehatan beliau semakin menurun dan di luar dugaan pada 14 Maret 2008 beliau wafat. Saat mendengar berita tentang kepergiannya itu ada keragu-raguan tentang kebenaran berita itu, karena tiga hari sebelumnya penulis sempat membesuk beliau ke rumah sakit Sanglah. Kami berombongan empat orang, yaitu penulis disertai istri, dan I.G.B. Puspanegara juga disertai istri. Di rumah sakit sudah ada putra-putri dan menantu beliau yang dengan cinta kasih mendampingi beliau. Ruang perawatan yang ber-AC itu membuat kami menggigil kedinginan, mungkin disebabkan kami baru saja datang dari luar yang udaranya gerah. Kami mengucapkan salam, setelah itu perhatian kami terfokus pada beliau. Atas kedatangan dan simpati kami, dengan sangat lirih beliau mengucapkan terima kasih. Kami sempat berdialog dan ternyata pikiran beliau masih jernih, kata-katanya bisa kami tangkap. Beliau ingin lebih lama bercerita menyampaikan pikiran dan perasaan beliau, namun kami sadar dengan tulisan yang terpampang di pintu masuk “harap tenang”, membuat kami membatasi diri. Pikiran kami biarlah nanti setelah beliau sembuh dialog itu diteruskan lagi. Sesaat suasana hening, terlihat beliau memejamkan kelopak mata kemudian terdengar suara liruh, menyampaikan keluhan tentang penyakit beliau. Dari putera-puteri beliau terdengar jawaban agar beliau tabah dan bersabar, semua berdoa untuk kesembuhan beliau. Setelah itu semua diam, tak ada yang memulai percakapan. Suasana jadi hening. Sayup-sayup terdengar mesin pantau kesehatan yang memperlihatkan gerak grafik pada layar mesin itu. Semua pandangan terarah kesana. Penulis tak paham arti gerak grafik itu, tetapi di tengah-tengah ketidak mengertian itu ada niatan menanyakan apa arti semua itu. Niatan itu beralih pada gerakan putra-putri dan menantu beliau yang secara sigap membenahi letak bantal dan selimut dengan belaian kasih. Lewat belaian kasih itu penulis menemukan mutiara kehidupan yang tidak ternilai. Dalam keadaan sakit seperti itu peran keluarga semakin berarti. Sebab tanpa mereka sepertinya kita tak memiliki apapun. Memang banyak handai-taulan yang datang, tetapi mereka tidak sama seperti keluarga yang terus merawat dan memperhatikan. Cinta adalah sesuatu yang paling utama. Tak ada yang menggantikan peran itu. Perlahan seorang perawat mendekat, memeriksa kondisi beliau. Ia lanjut menyuntikkan obat pada cairan infus yang tergantung di atas sana. Beliau terdiam dan nampak tanda-tanda mengantuk. Kami semua diam, tak ada percakapan sama sekali hingga beliau terlelap. Karena sudah cukup lama di sana, kami berempat mohon pamit. Sesaat beliau terjaga dan memandang ke arah kami disertai anggukan. Betapapun anggukan itu sedikit sekali tetapi maknanya cukup kami pahami. Beriringan kami keluar dari ruang perawatan itu. Di sepanjang perjalanan tak ada obrolan yang kami lakukan. Hanya satu-dua patah kata yang terdengar, masing-masing terbawa pikirannya sendiri. Di tengah-tengah kebisuan itu ada satu hal yang tak terucapkan yaitu doa untuk kesembuhan beliau. Sungguh sayang harapan itu tidak terpenuhi karena tiga hari setelah itu beliau berpulang. Sebuah berita yang mengejutkan dan menyisakan rasa duka yang mendalam. Tidak terbayangkan kepergiannya itu karena beliau masih dalam usia relatif muda. Sekali lagi kita kehilangan seorang panutan tempat kita bertanya dan berbagi dalam suka dan duka. Mengapa ini harus terjadi? Sebuah pertanyaan yang tak bisa dijawab.

Penuturan banyak orang, kehidupan ini sama alaminya dengan kematian itu sendiri, bagian dari proses yang kita jalani. Keduanya diliputi berbagai misteri. Tiada pernah usai bila dipertanyakan. Tidak ada jawaban yang bisa mengungkap rahasia di dalamnya. Porsi kita sebatas penyelenggaraan upacara ritualnya semata agar Sang Hyang Atma yang sudah begitu lama menyatu dengan sarira (raga sarira, suksma sarira) segera bisa kembali ke alam pitra (asalnya). Begitu juga unsur sariranya bisa kembali ke asal. Prinsipnya ritual tersebut adalah penyucian dan sastra menyebutkan pahalanya besar bagi siapapun yang membantu kelancaran prosesi itu. Siapapun membantu, dari alam sana, dianugerahkan aura berupa ketenangan dan kesabaran dalam memaknai kehidupan dunia ini. Sebuah tuntunan yang baik bagi bahan renungan karena berbagai sumber menyebutkan barang siapa melakukan hal-hal yang berguna (subhakarma), dia membebaskan dosa sepuluh tingkat leluhurnya, sepuluh keturunannya dan ia sendiri adalah yang kedua puluh satu. Penulis meyakini ada Keberadaan Tertinggi yang menciptakan semua ini. Terpujilah bagi siapapun yang menjadikan itu sebagai pedoman.

Satu hal yang penulis kagumi adalah tentang ketegaran keluarga yang ditinggalkan. Mereka nampak tenang dan bersabar. Pada gurat wajahnya, tak nampak ada keputus-asaan dan kebingungan atas cobaan ini. Sebagai wujud hormat dan bakti kepada orang tua, mereka telah memberikan yang terbaik bagi almarhum dari sejak perawatan hingga prosesi pengabenan. Tamu yang datang mereka sambut dengan ramah begitu pula saat mereka pamit, diantar sembari mengucapkan terima kasih. Kiranya dari alam sana, almarhum tetap memberikan perhatian bagi keluarga yang beliau cinta itu.

Kiranya sudah saatnya kita mengikhlaskan kepergiannya dan bagi pihak keluarga diharapkan tetap bergandengan tangan satu sama lain dan jangan biarkan kesedihan ini sampai berlarut-larut. Semoga.

2. Dr. I Gusti Agung Nyoman Adhi Yasa

Matahari baru saja condong ke barat. Sinarnya redup. Sebuah mobil sarat penumpang berhenti di parkiran Jero Kuwum. Keempat pintunya terbuka dan satu persatu penumpang turun. Di sana ada Dr. I Gusti Agung Nyoman Adhi Yasa beserta Istri dan peserta lain dalam mobil itu adalah I Gusti Agung Ketut Raiwati (Ibu Penulis), I Gusti Agung Ayu Rai (kakak dari Dr. I Gusti Agung Nyoman Adhi Yasa), Ny. I Gusti Agung Made Oka Wirya, I Gusti Agung Ayu Rai (Istri dari I Gusti Agung Ketut Putra). Ada 2 peserta lain yang umurnya masih muda yaitu I Gusti Agung Ayu Mas Silawati duduk di belakang stir mobil dan satunya lagi Kadek Indrawati menantu dari I Gusti Agung Made Oka Wirya. Seturun dari mobil langsung menuju Saren Anyar. Disebut Saren Anyar karena banguanan itu yang terakhir dibuat sehingga untuk membedakan dengan bangunan lain, nama itu diberikan. Bangunan itu terdiri dari 2 kamar yang fungsinya semata- mata sebagai gudang tempat menyimpan barang-barang keperluan upacara. Di depan kamar itu ada ruang terbuka yang difungsikan sebagai tempat duduk dan aktivitas mempersiapkan keperluan upacara. Sudah biasa tamu yang datang dipersilakan di sana. Tidak seperti biasa, yang datang kali ini memilih duduk di bawah, di pinggiran lantai menghadap ke selatan. Dr. I Gusti Agung Nyoman Adhi Yasa dan istri duduk paling barat, dan yang lain di sebelah timurnya. Duduk seperti itu terasa lebih nyaman karena kaki bisa dijulurkan ke bawah. Penulis masih ingat hari itu, Minggu tanggal 1 Juni 2008. Saat itu tidak banyak terdengar obrolan, hanya terdengar satu dua patah kata saja. Mungkin dikarenakan ada suara berisik dari aktivitas tukang bangunan yang tengah mengerjakan renovasi merajan. Perhatian terfokus kearah sana. Sekitar 10 menit kemudian ibu penulis membagikan senteng, lanjut mempersilakan semua menuju ke merajan. Sesampai di halaman merajan, Dr. I Gusti Agung Nyoman Adhi Yasa mengedarkan pandangannya ke pelinggih- pelinggih yang direnovasi itu lanjut bersama- sama duduk di atas tikar menghadap Sanggar Agung. Setelah sarana berupa bunga dan dupa siap, persembahyangan dimulai. Setelah persembahyangan selesai, kembali lagi duduk di Saren Anyar. Di sana telah disediakan jeruk dan beberapa jenis buah-buahan lain. Karena segera harus berangkat ke bandara Dr. I Gusti Agung Adhi Yasa dan Istri mohon pamit. Penulis mengulurkan tangan untuk bersalaman dan beliau membalasnya sembari mengucapkan kata “Rahayu”, lanjut berjalan menuju tempat parkir. Dari atas mobil beliau melambaikan tangan dan kendaraan yang dikemudikan I Gusti Agung Ayu Mas Silawati itu perlahan bergerak menuju arah Denpasar. Demikian suasana perjumpaan terakhir yang masih terbayang.

Kemudian tiba pada Sabtu malam tanggal 21 Juni 2008 ada berita yang sangat mengagetkan, beliau diberitakan meninggal dunia. Semua terdiam, tak ada kata yang bisa diucapkan. Ibu penulis merasa sangat terpukul oleh pemberitaan itu, beliau tertunduk dan terkulai sembari mencucurkan air mata. Kesedihannya tiada terbendung. Beberapa kali nama almarhum disebutnya dengan suara terbata- bata. Sesaat beliau melihat ke atas, semacam doa untuk almarhum.

Kepergiannya meninggalkan kenangan bagi kita semua. Beliau dikenal sangat tekun, mencintai profesi dokter yang telah menjadi pilihan hidupnya. Beliau adalah dokter pertama di lingkungan keluarga kita, satu gelar akademis yang ketika itu demikian langka. Hanya kalangan yang berotak encer saja yang bisa meraih gelar itu. Beliau pernah bertutur, dokter tidaklah segala- galanya. Profesi dokter tak berbeda dengan profesi lain, sama- sama punya tugas pelayanan. Dokter dan pasien bisa diibaratkan sebagai sebuah tim yang punya tujuan sama yaitu kesembuhan. Porsi dokter dalam membangun kesembuhan hanya sebagian dan bagian lainnya ada pada pasien. Jadi harus ada kerjasama di antara dokter dan pasien itu. Namun harus diyakini, pemilik otoritas tertinggi ada di atas sana, di tangan Tuhan. Sehingga di samping usaha dan kerja keras (dokter dan pasien), doa tak boleh ditinggalkan.

Ada satu lagi yang ingin penulis ceritakan tentang beliau, yaitu tentang kegemaran beliau menulis. Lewat tulisan itu Beliau ingin berbagi. Adapun dorongan menulis itu muncul setelah beliau membaca sebuah artikel, tentang peristiwa yang menimpa seorang bocah usia 13 tahun ketika berkecamuk Perang Dunia II. Bocah itu bernama Anne Frank yang karena satu sebab dia dan keluarganya jadi incaran serdadu pendudukan Jerman di Belanda. Keluarga itu bersembunyi di sebuah ruangan gedung bertingkat. Sebagai perintang- rintang waktu Anne Frank menulis catatan harian. Semula ia menulis untuk dirinya sendiri. Hingga suatu ketika ia mendengar sebuah stasiun radio di Inggris menyiarkan pidato seorang pejabat Belanda di pengasingan. Pejabat itu berniat mengumpulkan Pelbagai catatan saksi sejarah penderitaan rakyat semasa pendudukan Jerman. Pidato itu memotivasi Anne Frank membuat catatan harian. Kelak jika perang usai dia ingin menerbitkan sebuah buku berdasarkan catatan harian itu. Benar buku itu kemudian terbit sebagai bacaan yang sangat diminati orang. Berdasarkan penuturan almarhum, kisah itu menjadi salah satu faktor pendorong beliau tertarik menulis. Semacam catatan yang merupakan tumpahan pikiran, perasaan, dan apapun yang beliau alami. Beliau menulis apapun yang beliau suka atau tidak suka apa adanya tanpa paksaan. Dari berbagai tulisan yang pernah beliau buat, ada inti sari pemikiran beliau yang pernah dimuat dalam majalah Gema terbitan 29 November 2006. Artikel yang beraroma spiritual dangan pokok bahasan tentang kebenaran dan 8 cara mewujudkannya. Sebuah renungan yang sarat makna. Bila disederhanakan dapat dijelaskan bahwa dalam diri setiap orang ada 2 pribadi, yaitu pribadi yang lebih rendah yang dilahirkan dan terikat pada ilusi dunia material, dan satunya lagi adalah pribadi yang lebih tinggi yang tidak dilahirkan dan tanpa ikatan sama sekali. Untuk bisa meraih kebenaran itu kita harus belajar untuk menemukan jalan menuju pribadi yang lebih tinggi itu. Karena kalau tidak, kita akan tetap jadi budak karma yang dikuasai sepenuhnya oleh berbagai ilusi yang lahir dari ego kita ini. Kita harus menyadari itu dan punya motivasi bahwa saatnya telah tiba untuk mulai belajar. Dari tulisan yang beliau buat itu kita jadi tahu Beliau telah menjalani proses belajar itu. Tentu tidak terbilang makna yang diperolehnya dalam perjalanan untuk menemukan kebenaran itu. Doa penulis untuk Beliau semoga damai di sana. Bagi keluarga yang ditinggal kiranya tetap tabah dan jangan pernah melupakan makna dari artikel yang beliau titip lewat tulisan itu.

3. I Gusti Agung Ngurah Sumerta ST

Ditinjau dari usia beliau terbilang muda. Beliau adalah putera ke-4 dari 10 bersaudara. Dalam profesinya sebagai PNS di lingkungan PLN, beliau dikenal sebagai pekerja ulet, punya semangat pantang mundur dan selalu optimis. Berbicara apa adanya, blak-blakan dan tak suka basa-basi. Singkat kata to the point. Begitulah sikap hidupnya. Sikap yang menjadikan dirinya mudah bergaul, cepat akrab dengan siapapun termasuk dalam hubungan kedinasan dengan atasan. Beliau punya pengalaman luas karena pernah ditempatkan di berbagai wilayah di Maluku. Berbekalkan pengalaman itu, beliau kemudian ditempatkan di Bali. Sebelum ditarik ke Denpasar, beliau pernah bertugas di Tabanan.

Saat penulis masih sebagai PNS di Tabanan, ada rapat pembahasan anggaran. Waktu itu posisi penerimaan daerah tidak dapat menutup belanja yang direncanakan. Solusinya anggaran penerimaan diusahakan meningkat. Semua instansi yang terlibat dalam penerimaan diundang. Dalam relasinya dengan penerimaan, kewenangan PLN adalah pajak penerangan jalan. Dalam rapat itu penulis sempat berdialog dengan almarhum, ternyata almarhum sangat menguasai data. Dengan tangkas semua pertanyaan diresponnya dan karena semangat tanpa sadar Beliau memanggil penulis dengan sebutan “bli”. Terdengar ledakan tawa dari seluruh peserta rapat sehingga suasana berubah yang sebelumnya serius jadi penuh tawa. Selesai rapat penulis sempat bersalaman dan mengundang beliau makan siang. Tetapi Beliau jawab, “Lain kali saja, karena masih ada tugas lain yang menunggu”. Demikian jawab Beliau singkat lalu berjalan kearah pintu keluar. Peristiwa itu yang penulis kenang saat mendengar Beliau diberitakan wafat. Memang cukup lama beliau mendapatkan perawatan medis. Sudah demikian banyak upaya yang dilakukan untuk kesembuhannya. Tetapi pada akhirnya kita dihadapkan pada kenyataan yang selalu ingin kita hindari. Beliau wafat pada tanggal 1 Juli 2008 dan 9 hari berikutnya diselenggarakan upacara ngaben untuk beliau. Kiranya atas doa semua pihak, utamanya istri dan ketiga anak baliau penyelenggaraan upacara dari awal hingga selesai telah berjalan lancar. Dan bagi keluarga yang ditinggal tetap tabah. Semua memanjatkan doa untuk kalian.

4. I Gusti Agung Putu Panji Wirawan

Beliau adalah putra pertama dari I Gusti Agung Made Raka Rapeg dengan empat saudara. Keempat saudara beliau adalah perempuan, dan semua telah menikah. Sejak kecil beliau tinggal di Banjar Nyelati, tepatnya di Jero Nyelati Delodan. Demikian pula pendidikannya yang ketika itu sebutannya adalah Sekolah Rakyat (SD sekarang) dijalani bersama teman-teman sebayanya di Desa Sembung. Karena sejak kecil tinggal di desa, hampir semua warga dikenalnya utamanya generasi yang sebaya dengan beliau. Beliau pernah mengikuti berbagai kursus sebagai kelengkapan atas ijasah yang dimilikinya. Berbekalkan pengetahuan itu beliau pernah tercatat sebagai pegawai tidak tetap di PLN, tetapi tidak lama kemudian mengundurkan diri karena lebih menyukai kehidupan di pedesaan. Kemudian setelah menikah atas desakan orang tua dan istrinya, beliau bekerja di Kantor Pemerintah Daerah. Dalam perjalanan kariernya sebagai PNS, beliau pernah bertugas di Kantor Camat Mengwi dan kemudian di Kantor Camat Abian Semal sampai akhirnya memasuki usia pensiun. I Gusti Agung Putu Panji Wirawan memiliki 3 orang anak terdiri dari 2 laki-laki dan 1 perempuan. Mereka semua telah mandiri. Anak pertama bekerja sebagai PNS di Kantor Bupati Badung. Dari anak pertama beliau mendapatkan seorang cucu perempuan. Kemudian anak kedua adalah polisi yang dulu pernah bertugas di wilayah perbatasan Timor Leste, dengan dua orang anak, yaitu satu laki-laki dan satu perempuan. Selanjutnya anak beliau yang ketiga adalah perempuan, masih gadis yang kini bekerja di California (Amerika Serikat). Kiranya dari apa yang telah dicapai oleh ketiga putra beliau itu, pastilah memberikan satu kepuasan dan kebanggaan bagi beliau dan istrinya. Secara awam bisa disebutkan mereka semua telah jadi orang. Tampaknya kebahagiaan ini tidak lama bisa beliau nikmati. Karena penyakit yang dideritanya, beliau harus menjalani perawatan di rumah sakit. Sungguh di luar dugaan kondisi kesehatannya terus memburuk dan dokter yang merawatnya tidak berhasil memberikan kesembuhan bagi beliau. Akhirnya beliau meninggal pada Sabtu siang, tanggal 9 Agustus 2008. Seluruh keluarga besar Swa Wandawa berduka atas kepergian beliau.

Dalam relasinya dengan makna kehidupan keempat almarhum telah memberikan yang terbaik menurut caranya masing-masing. Beliau telah sampai di penghujung perjalanan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Namun yang utama bagi kita adalah memetik manfaat dari mutiara kehidupan yang telah beliau torehkan itu. Kiranya torehan itu bisa jadi bahan renungan bagi kita dan generasi selanjutnya.

Semoga.

(I Gusti Ngurah Suryanegara)

Fakta Kesehatan

KHASIAT BUAH

Oleh :

I Gusti Made Adnyana

Bath, Juli 1992. Kala itu penulis sedang melaksanakan tugas belajar mendalami teknologi keamanan bandara untuk menangkal setiap aktifitas yang berniat mengganggu keamanan dan keselamatan penerbangan, berlokasi di Bailbrooke Colledge, Bath, Inggris. Aktifitas rutin mulai Senin sampai Jumat adalah belajar di kelas termasuk praktikum di laboratorium. Sabtu dan Minggu adalah acara bebas, dan apabila tidak pesiar sebagian dari kami bermain tennis meja. Kala itu seorang peserta dari jurusan Pengatur Lalu Lintas Penerbangan, ATC (Air Traffic Controller) berkebangsaan Inggris, David memperkenalkan diri dan mengajak penulis bermain melawannya dan akhirnya kami menjadi teman akrab.

Sejak saat itu, setiap makan pagi, dia memilih duduk bersama kami peserta dari Indonesia dan mengobrol berbagai hal. Penulis memperhatikan kebiasaan bule tersebut, yaitu selalu minum dua gelas jus jeruk sebelum makan pagi. Padahal orang-orang tua kita dahulu bahkan ada dokter menyarankan untuk tidak makan atau minum jus buah yang rasanya masam di pagi hari apabila mengidap sakit maag. Penulis merasa heran, dan bertanya dalam hati, “pagi-pagi begini, perut kosong kok minum jus jeruk, apa tidak sakit perut?”. Lama tidak ada jawaban, dan pasti selamanya tidak akan ada jawaban, karena pertanyaan itu penulis ajukan dalam hati. Namun dalam keheningan itu Si-David berbicara : “ayo minum dulu sebelum makan, jus jeruk baik untuk kesehatan”. Dengan lunglai Penulis jawab: “No, thank you. saya tidak berani karena punya sakit maag”. Dia berkata : “saya dulu sama seperti anda, lalu dokter menyarankan untuk minum segelas atau dua gelas jus jeruk setiap pagi minimal setengah jam sebelum makan”. Setelah agak lama berbincang akhirnya penulis berjanji mulai besok pagi akan minum jus jeruk seperti yang ditawarkan oleh Si David.

Kesesokan harinya, pagi-pagi benar penulis bersama seorang teman dari Jakarta masuk kantin Bailbrooke Colledge untuk minum segelas jus jeruk, dan setengah jam setelah minum penulis mulai ambil makanan untuk sarapan pagi. Rasa was-was mulai muncul, detik berganti menit, menitpun berganti jam, penulis menunggu reaksi apa yang akan terjadi dalam perut. Siang telah tiba dan malampun menanti, tidak ada reaksi yang bersifat negatif, oh.... lega. Pagi berikutnya penulis minum dua gelas jus sebelum makan pagi dan begitu untuk hari-hari selanjutnya. Selama dua bulan di Inggris, walaupun cuaca cukup dingin, kesehatan penulis berada pada kondisi puncak, tidak pernah lelah, apalagi flu atau sakit. Teman-teman melihat tubuh penulis lebih langsing, tetapi kenyataannya berat badan tidak menurun bahkan sedikit meningkat (dari 73 Kg menjadi 75 Kg).

Singkat kata, tugas belajar selesai, kami saling berpisah dan masing-masing saling memberi cendera mata. Setibanya di Indonesia penulis berusaha mencari tahu melalui literatur penyebab kesembuhan penyakit maag oleh jus jeruk yang diminum di pagi hari minimal setengah jam sebelum makan. Hari-hari pencarian berlalu tanpa hasil, sehingga pasrah dan akhirnya terlupakan. Tetapi pada tahun 2007 setelah setahun bertugas di Kantor Pusat PT. Angkasa Pura I (Persero) Jakarta, artinya 15 tahun masa penantian dan pencarian, akhirnya penulis menemukan jawabannya dari tiga orang akhli kesehatan, yaitu :

1. Iskandar Ali :

Iskandar Ali adalah seorang pendiri Klinik Herbal Sari Alami dan anggota HIPTRI (Himpunan Pengobat Tradisional dan Akupuntur Indonesia). Menekankan keseimbangan kondisi asam dan basa dalam tubuh manusia, karena fungsi pencernaan akan sehat jika kondisi asam dan basa dalam tubuh seimbang. Tubuh memerlukan lebih banyak makanan pembentuk basa dari pada pembentuk asam. Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa makanan pembentuk asam tidak ada hubungannya dengan makanan asam (acidic foods). Makanan pembentuk asam rasanya belum tentu asam atau bisa berbeda sama sekali. Sebagai contoh, buah-buahan yang rasanya asam seperti jeruk, nanas dan stroberi memberi pengaruh basa di dalam tubuh manusia. Jika terjadi sariawan, nyeri lambung, flu atau kelebihan berat badan, pertanda gejala tingkat keasaman tubuh mulai tinggi.

2. Lotus Yogamaitri menulis dalam Majalah Seri Dharma dengan topik cara makan buah yang benar, dengan uraian sebagai berikut :

a. Cara Makan Buah Yang Benar :

Kita layaknya berfikir bahwa makan buah ditafsirkan sebagai berikut : membeli buah-buahan, dicuci dan dipotong lalu dimakan. Tetapi bukan segampang itu persepsinya dan memang bukan itu yang dimaksud. Yang terpenting harus difahami adalah bagaimana dan kapan kita makan buah.

b. Bagaimana dan Kapan Makan Buah :

Buah dibersihkan (dicuci atau dikupas) terlebih dahulu dan makanlah buah di waktu perut sedang kosong, bukannya sesudah makan (sering disebut cuci mulut). Jika anda memakan buah setelah perut kenyang akan membuat sistem dalam perut menjadi kacau (detoxifying your system). Akibatnya berat badan akan merosot dan kehilangan energi untuk kegiatan hidup

c. Makanan Terbaik :

Buah adalah makanan terbaik untuk manusia dan penting bagi setiap orang untuk pertumbuhan pikiran yang kreatif, berkualitas tinggi, dinamis dan harmonis. Coba bayangkan, anda makan pagi dengan dua potong roti atau sepiring nasi goreng, kemudian makan buah-buahan. Buah yang dimakan akan segera masuk perut dan usus besar, tetapi terhalang oleh roti atau nasi goreng yang dimakan tadi. Buah itu tercegat, sementara roti atau nasi goreng tadi membusuk dan meragi berubah menjadi asam dalam perut. Ketika buah masuk dan kontak dengan makanan dalam lambung tercampur asam lambung, membuat makanan dalam perut menjadi rusak.

Kita sering mendengar banyak orang mengeluh karena setiap kali makan buah semangka jadi cegukan (slekutan), sehabis makan durian membuat perut kembung, habis makan pisang terasa mual atau ingin ke toilet atau ada rasa tidak enak. Hal ini tidak akan terjadi apabila buah dimakan sewaktu perut kosong. Sesuai hasil penelitian Dr. Herbert Sehlton, bahwa tidak benar apabila jeruk, dan semangka membuat perut jadi perih, sebab semua buah yang dimakan menjadi alkaline dalam tubuh kita.

d. Apabila anda menguasai cara yang benar makan buah, berarti anda mengetahui rahasia hidup sehat, kuat, cantik, panjang umur, berbahagia dan harmonis, berat tubuh selalu normal. Jika ingin minum jus buah, minumlah jus buah yang asli bukan kalengan. Jus buah tidak boleh dipanaskan atau dimasak karena akan kehilangan nutrisi dan zat kesehatan yang dibutuhkan. Dalam hal ini anda hanya menikmati rasanya saja dari buah tersebut.

3. Alyce M. Sorokie :

Alyce M. Sorokie secara terus menerus mempelajari dan memadukan berbagai modalitas penyembuhan alternatif. Dia merupakan pendiri Partner in Wellness, yaitu klinis holistik yang menghususkan diri pada terapi kolon di daerah Chicago, dan telah menjadi konsultan pencernaan dan terapi kolon selama 18 tahun. Dia mengupas tentang kadar asam dan basa dalam perut. Khawatir, cemas, takut dan stress menghasilkan asam di dalam tubuh. Agar sehat, tubuh harus mempertahankan kadar pH darah 7,4 (sedikit basa – alkalis). Semua sayuran dan buah bersifat sangat basa. Buah segar akan membersihkan saluran cerna, serta mudah dicerna dan dimetabolisasi. Buah jeruk merupakan sumber pektin (serat larut membantu menyerap kalsium) yang sangat baik. Namun demikian buah pisang, buah-buahan tropis dan buah kering harus dikonsumsi dalam jumlah terbatas bagi mereka yang sensitif terhadap gula. Jika kadar pH darah menjadi asam, kesehatan kita akan terganggu. Makanan berprotein (daging dan telur), produk susu, soda, alkohol, gula dan kopi adalah makanan pembentuk asam. Marilah kita lebih arif memilih produk makanan untuk kearifan perut yang kita sayangi ini. Dan apabila tidak ada aral melintang akan dilanjutkan dengan kombinasi makanan untuk kearifan perut pada terbitan Gema berikutnya.

(Pemogan, 2010)

SILSILAH KETURUNAN IGA MADE GERIYA JERO ANYAR SEMBUNG

I.Silsilah keluarga IG Agung Nyoman Raka Putra IGA Made Gerya Jero Anyar Sembung

I G Agung Nyoman Raka (1919) Putra pasangan IGA Gerya / IGA Ayu Ketut Dibelug (Jero Dlod Pasar Sembung) Arya Kresna Kepakisan kawin dengan IGA Ayu Oka (1931-1993) Putri pasangan I IGA Putu Gede Kengetan Brata/IGA Ayu Putu Sentak (Arya Kresna Kepakisan) menurunkan 11 orang anak

1. IR. I Gusti Agung Ngurah Susanta (1947) kawin dengan Entin Kartini (1952) asal sunda (Bandung) menurunkan 4 orang anak

a. (1) I Gusti Agung Ayu Yuliani (1972) (2) I Gusti Agung Ayu Ariyanti (1974) (3) I Gusti Agung Trisna Kurniawan (1976) dan (4) I gusti Agung Ari Setiawan.

I Gusti Ngurah Susanta pernah menjabat sebagai kepala PU Kabupaten Gianyar dan PU Kabupaten Bangli setelah pensiun sebagai pekaseh Subak Cangi

2. I Gusti Agung Ngurah Supartha, SH (1949) diangkat anak (adopsi) oleh I GA Ketut Putra adik dari I GA Nyoman Raka dengan 2 orang istri menurunkan 6 orang anak

3. Ir. I Gusti Agung Ngurah Sutama (1951) kawin dengan A.A. Sagung Mas Yuni Astuti SH.MH(1957) dari Puri Wirasaba Kapal menurunkan 4 orang anak yaitu :

a. A.A. Agustiya Novitayanti, ST, Msi (1980) kawin dengan Ngurah Agus Sanjaya, SKom MKom dari Br. Penataran Singaraja (Arya Kresna Kepakisan) (2) A.A.Aditya Yogiswari SSos (1982) kawin dengan Cokorda Raka Satriya Wibawa ST.MM dari Puri Anyar Klungkung (3) A.A. Putri Damayanti,ST (1989) dan (4)A.A. Ngurah Dharma Putra (1990)

4. Ir. I Gusti Agung Ngurah Sumerta (1953) kawin dengan Hwa Tresna Wati (1958) keturunan Tionghoa Ambon menurunkan 3 orang anak yaitu (1 ) I Gusti Agung Ayu Dewi (1977), A.A. Ayu Ratih Puspita rini (1982) dan A.A. Ngurah Yudi Kesuma Jaya (1986)

I Gusti Ngurah Sumerta telah meninggal pada tanggal 1 juli 2008 dan jandanya trisnawati telah kawin ke klungkung

5. I Gusti Agung Ngurah Wijaya SE, MM (1956) kawin dengan Desak Made Jayantini dari Peliatan (1960) menurunkan 1 orang anak yaitu A.A.Mas Darmayanti

6. I Gusti Agung Wiryanti SE (1957) kawin dengan Ir A.A. Darma Yadnya menurunkan 3 orang anak yaitu A.A. Mas Chandra dewi (2) A.A Gede Agung Jaya. (3) A.A. Gede Adi

7. Seorang bayi perempuan meninggal saat lahir (1959)

8. Ir. I Gusti Ngurah Wardana , MT (1962) kawin dengan wayan Suastini, SE (1963) dari klungkung menurunkan 2 orang anak (1) A.A. mas Yunita Wulandari (1990) dan A.A. Ayu Indah Kartika Sari (1993)

9. I Gusti Agung Ayu Mas Wardani SE (1964) kawin dengan Ida Bagus Gede Yudana SE dari Griya pemaron Munggu menurunkan 2 orang anak yaitu Ida Bagus Gede Agung Yoga Pramana dan Ida Ayu Gede Widiasti indah pramayoni

10. IG Agung Ngurah Wisuda SH (1966) kawin dengan Dewa Ayu Listiawati SE (1966) menurunkan 2 orang anak yaitu A.A Gede Kirsna Pratama (1996) dan AA Bagus Indra adiningrat (1998)

11. Dr. I Gusti Agung Ayu Widiasih (1969) kawin dengan Boy Jaya Wibawa putra dari Drs Sembah Subakti dari banjar buleleng menurunkan 2 orang anak yaitu (1) Wira Wibawa (1995) dan (2) Wira Wicaksana (1997)

Catatan : Putra IGA Made Gerya juga mempunyai anak laki dari Istri kedua Jero Nyoman Kemuda namun wafat waktu masih bayi

II. Silsilah IGAKetut Putra, putra keempat IGA Made Gerya Jero Anyar Sembung

· IG A ketut putra lahir tahun 1925 dari pasangan IGA Made Gerya dengan istri I Gusti Agung Ayu Ketut Dibelug Jero Dlod Pasar Sembung pasangan ini keduanya pratisentana Arya Kresna Kepakisan (sri Nararya Kresna Kepakisan)

· I G A Ketut Putra (Jero Anyar Sembung) kawin dengan IG Ayu Rai putra pasangan IG A Nyoman Kaler dengan Jero Tunjung dari Um a Abian Blayu Tabanan

· Pasangan IG A Ketut Putra dgn IG Ayu Rai tidak menurunkan anak kandung kemudian mengangkat anak /memeras anak dari I Gusti A Nyoman Raka yaitu I Gusti A Ngurah Supartha, SH yang kawin dengan A.A Istri Anom Marwati (1953) dari Puri klungkung (batanwaru) menurunkan 3 orang anak yaitu :

· I Gusti Agung Gede Saputra SH (1974) dengan saudara kembarnya I Gusti Agung Ngurah Adi Putra (1974) dan I Gusti A Ayu Arisna Agustini, SH, MH (1976). Perkawinan dengan A.A. IStri Anom Maswati mengalami perceraian (1991) dan I GustiA Ngurah Supartha, SH menikah lagi dengan Ida Yuniarni (1962) keturunan Jawa Bali dari Hyang Batu (Denpasar) menurunkan 3 orang anak yaitu :

1. I G Agung Ananda Putra (1994)

2. I G Agung Nanditya Wardhana (1996)

3. IG Agung Yoga Pramartha (2000)

Adapun cucu-cucu dari I G Ketut Putra anak dari A.A. Istri Anom Marwati ketiganya telah berkeluarga dan masing-masing menurunkan seorang anak

IG Agung Saputra SH (1974) kawin dengan Rita kristianti SE (2002) dari purbalingga jateng menurunkan seorang anak perampuan IG Agung Tiara Dianti Saputra (2005)

IG Agung Ngurah Adi putra SH (1974) kawin dengan Putu Nopi Wijayanti (1984) asal bugbug (karangasem) menurunkan seorang anak perempuan I G Agung Ayu Inten Febriani (2004)

I G Agung Ayu Arisna Agustini SH MH (1976) kawin dengan Budi asal tegal jawa tengah telah menurunkan seorang anak perempuan

III. Silsilah Kulawarga I G Ayu Manik, putra kelima I G A Made Gesya Jero Anyar Sembung

· I GA Ayu Manik (1928), adalah putra kelima, lahir dari pasangan I G A Made Griya (Jero Anyar Sembung) dan I G A Ayu Kelut Debelug (Jero Delod Pasar Sembung) . Kawin dengan I G A Gde Jelantik, putra pasangan I G A Nyoman Kuta (Jero Gde Sembung) – I G A Nyoman Gu (Jero Gde Nyelati)

· Dari perkawinan pasangan I G Gde Jelantik / I G Ayu Manik, menurunkan 3 orang anak yaitu,

1. I G A Gde Sutikna, meninggal semasih bayi

2. I G A Ayu Wartini kawin dengan Ida Bagus Dibya (Griya Gde Kemenuh Sembung) dan menurunkan 2 orang anak.

3. I G A Ayu Masini kawin dengan Drg I G A Bagus Adiwijaya, Puri Kuwum. Perkawinan yang dilakukan adalah nyentana atau nyeburin. Menurunkan seorang anak perempuan I G A Istri Indrayani yang telah kawin dengan I G A Mayun Priyadnya . Pasangan IG A istri Indrayani / I G A Mayun Priyadnya merupakan ahli waris dari I G A Nyoman Kuta dan I G Agung Gde Jelantik.

Catatan: I G A Nyoman Kuta, meninggal tahun 1956

I G A Ayu Nyoman Gu, meninggal tahun 1965

I G Gde Jelantik, meninggal 12-6-1994

I G Ayu Masini, meninggal 19-9-1988

IV. Silsilah Keluarga I G Agung Made Jelantik Sushila putra keenam (bungsu) IGA Made Gerya dengan I Gusti Agung Ayu Ketut Di Belug, Jero Anyar Sembung

I G Agung Made Jelantik Sushila (1931) Putra bungsu pasangan IGA Made Gerya (Jero Gede Sembung) dan IGA Ayu Ketut dibelug (Jero Delod Pasar Sembung), Kedua-duanya Pratisantana SRi Nararya Kresna Kepakisan. IGM Jelantik Sushila (Jero Anyar Sembung) kawin dengan IG Ayu Rai Bintang (1934) putra ketiga pasangan IG A Gede Oka Pager (alm) dengan IG Ayu Alit (alm) dari Jero Gede Nyelati. Keduanya juga Pratisentana Sri Nararya Kepakisan

Pasangan IG A Made Jelantik Sushila IG Ayu Rai Bintang menurunkan 3 orang anak yaitu :

1. DRg I G A Ayu Rai Yanti (1958) yang kawin dengan Dr WG Arimbawa MKes dari Br. Cerancam Kesiman Denpasar Timur dengan sorang anak laki-laki Agus Satya Arianta (1996)

2. Ir IG A Bagus Sila Darma MT PHD (1961) kawin dengan Dra I G Ayu Diah Anggraini (1967) Putra pasangan IG A Made Oka/ida Ayu Ardini (jero Gede Keranjung)menurunkan 3 orang anak :

1. Anak I laki-laki meninggal semasih bayi

2. Anak II I GA Bagus Dharma Agastia (1993)

3. Anak III I G A Bagus Dharma Mahardika (1995)

3. Ir. IG Ayu Silawati (1964) kawin dengan Dana Arya Iryanto asal Jakarta dengan sorang anak perampuan kandita putrid kanigara (1994) pasangan ini telah bercerai dan silawati dengan anaknya kembali menjadi tanggungan orang tuanya.

Demikianlah silsilah keturunan IGA Made Griya dari Puri Anyar Sembung

Tanggapan

Tanggapan Dan Penjelasan Terhadap Isi Singkat Babad Mengwi Yang Dimuat
Di Dalam Majalah GEMA Edisi 9, Galungan 14 Oktober 2009.
Oleh: Jelantik Susila

I. Pendahuluan

Di dalam MEDKOM Swa Wandawa – GEMA no. 9 Galungan 14 Oktober 2009, dimuat suatu tulisan tentang babad, yaitu: “Isi Singkat Babad Mengwi”, kutipan lontar berbahasa dan huruf bali oleh I Gusti Putu Mayun, Abiansemal, Badung.

Menyimak tulisan dan isi babad itu, ada dua hal yang cukup penting untuk diungkap, karena ada kaitan erat dengan pasemetonan Swa Wandawa Sembung Karangenjung dan Puri Samu, asal Puri Kengetan. Suatu hal yang menarik dan menggelitik. Hal yang menarik adalah telah ada ditulis di dalam babad itu nama tabe pakulun “Sri Nararya Kresna Kepakisan” bhatara lelangit kita dan I Gusti Dawan dan Ni Gusti Ayu Suci, leluhur kita bersama (Puri Sembung, Karangenjung dan Samu).

Sedang hal hal yang menggelitik, adalah beberapa nama dan peristiwa yang diungkapkan dalam tulisan babad di atas, ada kejanggalan dan atau berbeda dari nama nama dan peristiwa dari beberapa babad/silsilah yang pernah dan sempat dibaca selama ini. Besar kemungkinan adanya kejanggalan di atas, karena kutipan lontar Gedung Kertya nomor kode Va 1340/12 itu hanya merupakan suatu singkatan dan di dalam menyingkatnya ada yang ketinggalan dan atau keliru kutip.

Berikut ini dicoba menyiapkan suatu tanggapan dengan penuh maaf dan harapan semoga para semeton dan pengelingsir Swa Wandawa Sembung Karangenjung menaruh minat untuk menggali lebih lanjut bagi kelengkapan babad/silsilah Puri Sembung Karangenjung dan Samu.

II. Hal Hal Yang Menarik
  • Dari babad koleksi Gedung Kertya Singaraja, yaitu Babad Mengwi (Va 1340/12), untuk pertama kali menyebut nama (abiseka) Shri Nararya Kresna Kepakisan. Di beberapa babad lainnya sering ditulis hanya “Arya Kepakisan” atau “Arya Kresna Kepakisan”. Beliau ini adalah putra Shri Sastra Jaya (Arieng Kediri), keturunan Shri Airlangga (Raja Kediri tahun 1019 – 1042 M) dimana Shri Airlangga itu adalah putra Raja Bali, pasangan Shri Udayana Warmadewa/Shri Gunapriya Dharma Padmi (989 – 1008 M). Arya Kepakisan (Arya Kresna Kepakisan atau Shri Nararya Kresna Kepakisan) datang di Bali pada tahun 1352 M, mendampingi Shri Kresna Kepakisan yang ditetapkan sebagai Raja Bali setelah dikuasai Majapahit, pada ekspedisi II Mahapatih Gajah Mada th. 1334 M. Shri Kresna Kepakisan adalah putra Mpu Soma Kepakisan Kediri (Brahmana Wangsa). Setelah ditetapkan sebagai raja, beliau diberi gelar Shri Kresna Kepakisan. Di Bali disebut Shri Dalem Ketut Kresna Kepakisan dan sering pula dijuluki Dalem Samprangan karena istana beliau di Samprangan atau Samplangan sebelah timur kota Gianyar sekarang. Nampaknya Arya Kresna Kepakisan (putra Arieng Kediri)ditetapkan sebagai pendamping Raja dan diberi jabatan Patih Agung (Perdana Mentri) dan pengabih (Penasehat) adalah karena Shri Dalem Ketut Kresna Kepakisan , masih sangat muda, dan keturunan brahmana wangsa yang kurang berpengalaman dari segi politik pemerintahan. Sedangkan Arya Kresna Kepakisan sebagai pendamping dan pengabih karena beliau keturunan Raja Kediri dan pula ada ikatan darah dengan Raja Bali. Dengan pengalaman di dalam pemerintahan sebagai keturunan Raja Kediri dan Bali, oleh Maha Patih Gajah Mada, diharapkan pemerintahan berjalan baik dan dapat menentramkan rakyat Bali yang pada waktu itu masih bergolak. Arya Kepakisan atau Arya Kresna Kepakisan dengan Shri Kresna Kepakisan telah cukup akrab karena berasal dari desa yang sama, yaitu Desa Pakis Kediri, dan leluhur beliau adalah Bhagawanta Kerajaan Kediri. Sebagai kehormatan kehadapan Bhatara Leluhur Arya Kresna Kepakisan, telah didirikan Pura Kawitan di tepi Tukad Unda (abad ke-15) dan hancur terlanda lahar Gunung Agung tahun 1963. Sejak pemugaran Pura Kawitan di Banjar Dukuh Nyuh Aya Gelgel Klungkung (tahun 1983) dan karya pemungkah (th 1994) pura itu diberi nama Pura Dalem Agung, Pura Kawitan Shri Nararya Kresna Kepakisan dengan piodalan nuju tumpek kuningan. Di samping itu demi rasa persatuan dan kesatuan pasemetonan warih Shri Nararya Kresna Kepakisan, telah dapat diwujudkan ikatan lelintihan pasemetonan di th. 1984 dan dikukuhkan dengan AD/ART pada Mahasaba 1 th. 2000, dengan nama “Pasemetonan Pratisentana Shri Nararya Kresna Kepakisan”.
  • Mengenai I Gusti Dawan dan Ni Gusti Ayu Suci. Di dalam Babad Singkat Mengwi di depan telah tertulis dengan nama I Gusti Dawan dan Ni Gusti Ayu Suci. Oleh pratisentana beliau tertuang di dalam Sejarah Silsilah Keturunan Keluarga Swa Wandawa Sembung Karangenjung ( I Gusti Gede Oka Puger, 1976) dihormati dengan biseka tabe pakulun, I Gusti Agung Wayahan Dawan dan I Gusti Agung Ayu Suci. Setelah beliau kawin oleh Raja Mengwi, diberi kedudukan sebagai penguasa di Desa Kengetan dengan pengiring (wadua) sebanyak 500 orang. Perlakuan itu nampaknya sama dengan putra laki-laki Raja Mengwi yang ditempatkan di berbagai daerah. Untuk diketahui bahwa I Gusti Agung Ayu Suci adalah putrid Raja Mengwi I Cokorda Sakti Blambangan dengan ibu I Gusti Luh Toya Anyar, putrid penguasa Tianyar, keturunan Arya Gajah Para. Sedangkan I Gusti Agung Wayahan Dawan adalah putra I Gusti Anglurah Made Karangasem Sakti, Sang Atapa Rare, putra Raja Karangasem III. Walaupun beliau putra mahkota, namun dalam ketekunan mengikuti ajaran kediatmikan (spiritual), beliau tidak bersedia menggantikan kedudukan sebagai Raja Karangasem IV. I Gusti Agung Wayahan Dawan adalah keturunan Raja Karangasem, yang merupakan keturunan Pangeran (Kriyan) Nyuh Aya, sedangkan I Gusti Agung Ayu Suci adalah keturunan Raja Mengwi, yang merupakan keturunan Pangeran (Kriyan) Made Asak. Sedang Pangeran Yuh Aya dan Pangeran Made Asak adalah putra Arya Kresna Kepakisan atau Shri Nararya Kresna Kepakisan, Patih Agung dan Penasehat Raja Bali Shri Dalem Ketut Kresna Kepakisan, yang memulai tugas pengabdiannya di Bali tahun 1352 M.
Demikian hal-hal yang menarik yang dapat ditarik dari babad singkat di depan.

III. Beberapa Hal Yang Menggelitik Dari Isi Singkat Babad Mengwi.

Beberapa yang perlu dicatat di antaranya:
Pada awal Isi Singkat Babad Mengwi, ada ditulis: ”.........Kedatangan Shri Nararya Kresna Kepakisan bersama para arya di Bali, dimana Bali telah berkuasa De Sri Aji Agung Gede dengan gelar I Gusti Agung Ngurah Made Agung. Kedatangan beliau diiringi oleh Sri Wahu Dateng. Sri Wahu Dateng ini menurunkan Pangeran Nyuh Aya dan Pangeran Asak .......”
Tanggapan:
  1. Arya Kepakisan atau Arya Kresna Kepakisan dengan gelar Shri Nararya Kresna Kepaisan bersama para Arya Majapahit datang ke Bali th. 1352 M, mendampingi Raja Bali. Semula beliau itu (Raja Bali) adalah brahmana wangsa, putra Mpu Soma Kepakisan. Setelah ditetapkan sebagai Raja Bali diberi gelar pula Shri Kresna Kepakisan dan disebut pula Dalem Ketut Kresna Kepakisan, karena beliau adalah terkecil dari 4 bersaudara. Juga disebut Dalem Samprangan karena ist ana beliau di Samprangan bekas markas pasukan Mahapatih Gajah Mada pada waktu menyerang Bali th. 1343 M. Sedangkan gelar I Gusti Agung Ngurah Made Agung adalah Raja Mengwi I, yaitu I Gusti Agung Putu, putra penguasa Kapal I Gusti Agung Anom atau cucu dari I Gusti Agung Maruti.
  2. Sebutan gelar Sri Wahu Dateng (mengacu gelar bagi Dang Hyang Nirarta dengan Pedanda Wawu Rauh (Dateng). Untuk Arya Kresna Kepakisan yang mengiringi kedatangan Shri Kresna Kepakisan, dengan sebutun dan gelar Sri Wawu Dateng, nampaknya kurang lazim atau belum pernah babad menyebutnya. Yang pernah dibaca adalah gelar itu (Sri Wahyu Dateng) ditujukan kepada Sri Kresna Kepakisan atau Dalem Ketut, yang ditugaskan sebagai Adipati (Raja) Bali di tahun 1352 M.
Dipertengahan tulisan Isi Singkat Babad Mengwi ada dicantumkan: “.......... setelah I Gusti Ayu Made, putra Raja Mengwi, terdengar oleh De I Gusti Agung Made Agung yang mencari usada (obat) pada Pandia Wanasara yang menyebabkan Anak Agung Made Agung sangat marah akibat lamanya obat yang diberikan itu. Hal ini menyebabkan pecahnya Raja Mengwi. Akibat ulah sang Pandia yang memperistri I Gusti Ayu Made marahlah I Gusti Putu Agung, Pandia Wanasara dibunuhnya .............”.

Tanggapan:
  1. Di beberapa tulisan (babad) disebutkan bahwa I Gusti Ayu Made dan atau ditulis I Gusti Istri Made adalah putra dari I Gusti Agung Maruti yang pernah mengambil kekuasaan Dalem Dimade (Raja Gelgel), dan I Gusti Agung Maruti memerintah th. 1651 – 1877 M sebagai Raja Gelgel. Beliau berputra 4 orang, yaitu (1) I Gusti Agung Putu, (2) I Gusti Istri (Ayu) Made, (3) I Gusti Agung Anom dan (4) I Gusti Ayu Sasih. Jadi I Gusti Ayu Made bukan putra Raja Mengwi karena pada waktu itu Kerajaan Mengwi belum berdiri.
  2. De I Gusti Made Agung dan ditulis pula dengan Anak Agung Made Agung itu adalah I Gusti Agung Anom (putra no. 3 I Gusti Agung Maruti), setelah berkuasa di Kapal menyebut diri dengan biseka I Gusti Agung Made Agung. Beliau yang mencarikan obat/penyembuhan pada Pandia (Pedanda) Wanasara. Setelah pengobatan itu sebentar sembuh, namun setelah ke istana, kembali kumat penyakit (jiwa) nya. Sehingga I Gusti Agung Anom kemudian mengijinkan kakaknya (I Gusti Ayu Made) dikawinkan dengan Pandia Wanasara itu. Perkawinan antara Pandia (Pedanda) Wanasara dengan I Gusti Ayu Made itu setelah didengar oleh kakanda I Gusti Agung Putu yang berkuasa di Keramas, beliau itu menjadi sangat murka (marah). Kemudian mendatangi Pedanda Wanasara (iparnya), dan Ida Pedanda dibunuhnya. Peristiwa ini yang menyebabkan perpecahan persaudaraan antara Kapal (I Gusti Agung Anom) dan Keramas (I Gusti Agung Putu). Nampaknya dibunuhnya Pedanda Wanasara oleh I Gusti Agung Putu, memunculkan beberapa persoalan, akibat beberapa bisama di antaranya:o I Gusti Ayu Made (istri Pedanda) melakukan upacara labuh api (mesatia), menceburkan diri pada kobaran api sampai wafat.
    - Juga keluarga keturunan Kapal (I Gusti Agung Anom) tidak lagi menggunakan sebutan
    nama Made bagi anak perempuannya.
    - Pecahnya pasemetonan antara Keramas dan Kapal (I Gusti Agung Putu dan adiknya I
    Gusti Agung Anom)
    - Pedanda Wanasara, sebelum menghembuskan nafas terakhir mengeluarkan bisama
    (kutukan) diantaranya: (1) keturunan I Gusti Agung Putu (Keramas) tidak akan pernah
    sebagai raja; (2) keturunan I Gusti Agung Anom (Kapal) akan sering mengidap sakit
    ingatan (buduh).
  3. Di dalam isi singkat Babad Mengwi itu dijumpai pula ulasan kaitan antara Mengwi dengan Den Bukit (Buleleng). Disebutkan bahwa I Gusti Agung, Raja Mengwi menyerahkan adiknya diperistri oleh oleh I Gusti Ngurah Panji Sakti. Dari perkawinan ini (I Gusti Ngurah Panji Sakti dan adik Raja Mengwi), lahirlah putrinya Ni Gusti Agung Ayu Panji dan I Gusti Agung Ratu Muncan.
Tanggapan:

Raja Mengwi I keturunan Arya Kresna Kepakisan yang disebut I Gusti Agung adalah I Gusti Agung Putu, putra I Gusti Agung Anom (Penguasa Kapal) yang juga merupakan cucu dari I Gusti Agung Maruti, Raja Gelgel (th. 1625 – 1651 M). Setelah menjadi Raja Mengwi, beliau I Gusti Agung Putu menggunakan biseka I Gusti Agung Ngurah Made Agung Bima Sakti. Raja Mengwi tidak ada disebutkan dalam babad menyerahkan adiknya kepada Raja Buleleng. Malahan setelah timbul peperangan antara Mengwi dan Buleleng, I Gusti Agung Ngurah Made Agung dalam kedudukan lebih unggul, sehingga diadakan perdamaian. Dan I Gusti Agung Ngurah Made Agung alias Bima Sakti, dikawinkan dengan putri Panji Sakti, yang bernama I Gusti Ayu Panji. Sebagai tetaladan (bekel) bagi putri yang kawin, oleh Raja Buleleng menyerahkan kekuasaan atas daerah bawahannya, yaitu Jembrana dan Blambangan. Di samping itu didampingi bhatara tirtha, yaitu Brahmana Kemenuh Tarupinge/Kayuputih, Banjar. Brahmana Kemenuh dijadikan Bhagawanta untuk Raja Mengwi, dengan kedudukan di Geria Kekeran (selatan Mengwi). Kemudian Geria itu dipindahkan ke utara Mengwi, yaitu di desa Den Kayu. Setelah menguasai Blambangan, Raja Mengwi lebih dikenal dengan abiseka Cokorda Sakti Blambangan.

Demikian tanggapan saya terhadap hal-hal yang membingungkan yang ditulis dalam Isi Singkat Babad Mengwi berdasarkan beberapa tulisan dalam beberapa babad yang pernah dibaca.

IN MEMORIAL

ALMARHUM I GUSTI AGUNG NYOMAN RAKA

Om swargantu, Om moksantu, Om suniantu, Om mursantu, Om ksama sampurna ya namah swaha. Semoga Panca Maha Bhuta kembali ke alam sorga. Semoga Rokh kembali ke alam moksah, sang atman kembali ke alam sunia, semoga kembali ke alam masing-masing. Semoga masing-masing menemukan kesempurnaan.

I Gusti Agung Nyoman Raka telah berpulang dan meninggalkan kita semua pada tanggal 7 Maret 2011 pada usia 92 tahun, upacara palebon telah dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2011, upacara Nyegara Gunung dilaksanakan pada tanggal 3 April 2011, dilanjutkan dengan upacara Nilapati atau ngalinggihin Bhetara Hyang.

Keluarga besar Swa Wandawa Sembung Karangenjung tentu saja telah kehilangan salah satu tokoh sentral dalam pesikian, karena beliau adalah salah satu dari 11 (sebelas) tokoh pendiri pesikian Swa Wandawa Sembung Karangenjung 1957 yang lalu.

I Gusti Agung Nyoman Raka putra I Gusti Agung Made Geriya dilahirkan di Jero Gede Sembung saren kaler kauh pada hari jumat wage wuku landep tanggal 5 Desember 1919. Hari kelahiran ini tertulis pada kulit buku dagang ibunda I Gusti Agung Ketut Diblug ditulis oleh ayah beliau dengan huruf bali. Sedangkan tanggal, bulan dan tahunnya ditulis dengan huruf latin.

Pada umur 8 tahun yaitu 1927 beliau bersekolah desa (SD) di Sembung. Di sekolah beliau diberi nama I Gusti Agung Nyoman Debot. Nama ini dipakai sampai tamat sekolah vervolg tahun 1933 di Mengwi. Setelah menyelesaikan pendidikan pada HIS (Holland Islandsehe School) di Denpasar, beliau melanjutkan pendidikan di HIK pendidikan guru di Yogyakarta tahun 1939. Belum selesai pendidikan, pemerintah Belanda kalah perang dengan Jepang pada tahun 1942, karena sekolah ditutup beliau sempat pulang ke Bali. Tidak lama di Denpasar kurang lebih 4 bulan dipanggil kembali ke sekolah yang lama di Yogyakarta dengan perubahan nama sekolah yaitu Sihang-gakko. Pada tahun 1944 sesudah naik ke kelas 4, di Jakarta ada pembukaan sekolah guru olah raga untuk SMP, maka beliau berangkat ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan selama satu tahun. Dengan bekal pendidikan itu beliau dapat mengabdikan diri sebagai guru olahraga di Singaraja (Sihang-gakko) selama 2 tahun, setelah itu pindah ke SMP Negeri Singaraja sampai tahun 1948, kemudian minta pindah ke SMP Negeri Denpasar dan tinggal di rumah dinas Banjar Gemeh Denpasar, tepatnya paviliun tempat kediaman IB. Kt. Rurus.

Tahun 1949 beliau dipindah tugas mengajar ke Normal School di Makasar sekaligus mengikuti kelas khusus kweek school. Setelah selesai tugas di Makasar beliau kembali lagi ke SMP Negeri Denpasar. Pada waktu dibukanya Instansi Pendidikan Jasmani di Denpasar tahun 1951, beliau menerima SK sebagai Kepala Inspeksi Pendidikan Jasmani keresidenan meliputi Bali, Lombok dan Sumbawa. Pada tahun 1967 beliau menerima surat keputusan sebagai Kepala Kantor Daerah Udaka Propinsi Bali dan pada tahun 1973 ada perubahan struktur organisasi kantor daerah Udaka menjadi Bidang, sehingga beliau menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan Generasi Muda pada Kantor KANWIL Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Bali sampai dengan pensiun pada awal Pebruari tahun 1978. Setelah pensiun beliau sempat bekerja pada perusahaan konsultan, yaitu PT. Indec Cabang Bali (Indonesian Engineering Konsultan) untuk mendampingi konsultan pengairan asing di Proyek Irigasi Bali selama 10 tahun, dari tahun 1978 sampai dengan tahun 1988 sebagai Office Manager.

Dalam kepengurusan Swa Wandawa sejak berdirinya pada 15 September 1957 beliau sebagai komisaris Denpasar, setelah itu dengan wafatnya I Gusti Agung Gde Raka (Wakil Ketua) tanggal 28 Desember 1972, beliau I Gusti Agung Nyoman Raka dipilih sebagai Wakil Ketua Swa Wandawa. Selanjutnya dengan wafatnya Ketua Swa Wandawa I Gusti Agung Gde Oka Puger tanggal 10 Nopember 1977, maka jabatan ketua Swa Wandawa oleh rapat anggota dipercayakan kepada beliau selaku Ketua Pesikian Swa Wandawa Sembung Karangenjung. Beliau mengemban tugas sebagai Ketua Pesikian sampai dengan tahun 2001 tepatnya pada rapat galungan tanggal 26 September 2001, beliau mengundurkan diri sebagai ketua dengan alasan kesehatan, dan digantikan oleh Wakil Ketua yaitu I Gusti Agung Ketut Adi. Selama kurang lebih 24 tahun beliau mengemban tugas selaku Ketua Swa Wandawa Sembung Karangenjung, sempat terjadi perubahan susunan kepengurusan SW yang ditetapkan dalam rapat anggota 15 Oktober 1986 dengan susunan sebagai berikut:

o Ketua : I Gusti Agung Nyoman Raka

o Wakil Ketua I : I Gusti Agung Ketut Adi

o Wakil Ketua II : I Gusti Agung Gde Raka Arsana

o Sekretaris I : I Gusti Agung Ketut Bagus

o Sekretari II : Drs. I Gusti Agung Bagus Arthanegara

o Bendahara I : I Gusti Agung Ketut Putra

o Bendahara II : I Gusti Agung Nyoman Karang

Komisaris-Komisaris :

  1. I Gusti Agung Bagus Oka (untuk Kuwum)
  2. I Gusti Agung Made Raka (untuk Nyelati)
  3. I Gusti Agung Made Ketug (untuk Karangenjung)
  4. I Gusti Agung Gde Jelantik (untuk Sembung)
  5. Drs. I Gusti Agung Rai Sudarsana (untuk Denpasar)

Seksi-Seksi:

  1. Pendidikan:

I Gusti Agung Bagus Puspanegara, SH.

I Gusti Agung Gde Raka, B.Sc.

I Gusti Agung Ngurah Merthanegara, Bc.Ap.

  1. Penggalian Dana:

Drs. I Gusti Agung Gde Oka Wardana

I Gusti Agung Putu Mayun Sudharta, BA.

Drs. I Gusti Agung Rai Udayana.

  1. Adat dan Agama:

I Gusti Agung Nyoman Sudhiarsa, BA.

I Gusti Agung Ngurah Kusuma, BA.

I Gusti Agung Bagus Oka

  1. Pemuda/Olahraga:

I Gusti Agung Gde Sudana, B.Sc.

Drs. I Gusti Agung Putu Juana

Pada tanggal 24 Desember 1986 beliau sempat menyelenggarakan rapat kerja membahas tentang rencana kerja & RAPB bertempat di ruang sidang kantor POS dan Giro jln Teuku Umar Denpasar dengan membentuk komisi-komisi antara lain: Komisi Adat dan Agama; Komisi Pendidikan, Pemuda dan Olahraga; Komisi Penggalian Dana, yang hasilnya dimuat dalam buku 30 Tahun Swa Wandawa Sekar.

Dalam setiap rapat galungan sering beliau menghimbau agar mewaspadai delalu penyakit 5 M, yaitu: Memotoh, Memunyah, Memadat, Memadon dan Memaling, karena pasti akan menimbulkan kesengsaraan.

Demikian sekilas riwayat perjalanan hidup beliau dan akhirnya kami keluarga besar Jero Anyar Sembung menghaturkan suksmaning manah atas partisipasi serta bantuan moril maupun materiil yang telah diberikan kepada kami, sehingga rangkaian kegiatan Upacara Palebon hingga Upacara me ajar-ajar serta ngunggahang Bhetara Hyang dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om.

Rabu, 06 Juli 2011

SEKILAS TENTANG PAHLAWAN NASIONAL

SEKILAS TENTANG PAHLAWAN NASIONAL

ALM. I GUSTI AGUNG PUTU RAI

PURI KARANGENJUNG DESA SEMBUNG

KECAMATAN MENGWI KABUPATEN BADUNG

Keluarga besar Swa Wandawa Sembung Karangenjung patut berbangga karena salah seorang warganya mendapat gelar “Pahlawan Nasional”. Beliau adalah almarhum I Gusti Agung Putu Rai putra dari almarhum I Gusti Agung Made Oka yang dilahirkan dari salah seorang istrinya yang bernama Jero Somanasa. Sebagaimana diketahui almarhum I Gusti Agung Made Oka mempunyai tiga orang istri. I Gusti Agung Putu Rai adalah tiga bersaudara kandung (satu ibu). Beliau adalah saudara tertua dari dua adik-adik beliau, yaitu almarhum I Gusti Agung Nyoman Karang dan I Gusti Agung Ayu Ketut Rai.(diperistri oleh almarhum Ida Bagus Raka dari Geria Gede Sembung). I Gusti Agung Nyoman Karang semasa jaman perjuangan, juga adalah seorang pejuang yang sangat perkasa membela tanah air, tidak hanya di Bali, tapi juga berjuang ke daerah lain, seperti Jakarta, Makasar dan lain-lain. Setelah Indonesia merdeka, beliau mengabdikan diri di bidang dunia pendidikan (Taman Siswa, dan PR. Saraswati) sampai akhir hayatnya.

Almarhum I Gusti Agung Putu Rai adalah seorang pahlawan nasional dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam perjuangannya beliau sangat cerdik dan licin menyembunyikan diri, agar tidak diketahui oleh NICA (Belanda), dengan memakai nama samaran Windu Segara. Namun demikian nasib berkata lain, karena akhirnya tindak-tanduknya ternyata diketahui oleh pihak NICA. Sebagai akibatnya tahun 1947 yaitu setelah berakhirnya pertempuran yang sangat heroic di Marga, yang dikenal dengan “Puputan Margarana” tanggal 20 Nopember 1946, beliau kemudian diambil dari tempat tahanannya di tangsi NICA di Sembung dan dalam keadaan tangan terikat kebelakang. Beliau dieksekusi/ditembak mati di pinggiran tukad Yeh Dangkang di utara Desa Cau Belayu Tabanan. Pihak keluarga diberitahu oleh pasukan NICA bahwa tadi malam beliau melarikan diri.

Jenazah beliau kemudian oleh masyarakat khususnya warga Banjar Karangenjung dibawa ke Puri Karangenjung. Pada watu pengambilan jenazah penulis secara langsung ikut melihat ke tempat lokasi penembakan, dimana jenazah diangkut/digotong dengan memakai pelepah kelapa (dibandut dengan pelepah kelapa). Luka yang sangan parah pada jasad beliau adalah luka di kepala bagian belakang sampai batok kepalanya hamper terlepas.

Karena keadaan dan situasi pada saat itu masih genting (gawat), maka beliau kemudian dimakamkan dengan cara ditanam (mapendem) tanpa diaben. Barulah kemudian tahun 1950 beliau dipalebon/diaben bersama-sama nenek beliau almarhum I Gusti Ayu Raka. Pada waktu pendirian Makam Pahlawan Margarana jasad beliau juga dibuatkan Tugu Peringatan bersama-sama pahlawan kemerdekaan lainnya. Letak/tempat tugu beliau adalah di deretan/baris nomer ……….di belakang pusara almarhum Pahlawan Nasional Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai.

Patut kiranya diketahui bahwa beliau adalah seorang yang berbudi sangat luhur, yang sangat menghormati keluarga, khususnya ayahendanya yang pada saat itu masih hidup. Hal ini terbukti almarhum tidak semata-mata mementingkan diri sendiri, dengan tidak ikut menyingkir atau bersembunyi bersama-sama teman seperjuangan. Sebagai resiko apabila menyingkir/sembunyi maka keluarga Puri Karangenjung harus wajib lapor dan menginap di Tangsi NICA yang ada di Sembung, sebagaimana keluarga pejuang-pejuang yang menyingkir.

Semasa hidupnya beliau sempat belajar ngewayang atau menjadi dalang wayang kulit, dimana beliau termasuk pandai dan cepat bisa mendalang. Sempat pula beliau ngewayang di beberapa tempat di sekitar Desa Sembung.

Demikianlah sekilas tentang Pahlawan Nasional almarhum I Gusti Agung Putu Rai yang memperoleh penghargaan atas jasanya dari Markas Besar Legiun Vetran Republik Indonesia Nomer 1756/M/XI/2002 tanggal 5 Nopember 2002 (Petikan Surat Keputusan Mentri Pertahanan dengan predikat: Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia). Sebagai suatu penghargaan pula, nama besar beliau diabadikan pula untuk nama Lapangan Pemda Badung yang ada di Desa Sembung Banjar Karangenjung. Sejak kepemerintahan Anak Agung Gde Agung sebagai Bupati Badung, lapangan tersebut dikembangkan menjadi lapangan tembak Kabupaten Badung.

Akhir kata penulis berharap para pembaca berkenan memberikan kritik atau saran,karena penulis sadar bahwa tulisan ini sudah pasti banyak kekurangannya. Namun demikian itulah yang penulis ingat, walaupun kejadian tersebut secara langsung saksikan, yang mana saat itu umur penulis kurang lebih enam tahun.

Sekian.

Mayun Sudharta

Minggu, 03 Juli 2011

buku 50 tahun SW 3

1.2. Keberadaan Sri Nararya Kresna Kepakisan

Sri Nararya Kresna Kepakisan adalah Arya ing Kediri (Aryeng Kediri) anak dari Sri Sastra Jaya, raja Kediri yang memerintah tahun 1258 – 1271 M. Sebagai Kerajaan taklukan Majapahit, maka gelar-gelar seperti yang dipakai oleh para leluhurnya (Erlangga dan raja berikutnya) sudah barang tentu tidak boleh digunakan lagi. Gelar Sri Nararya yang disandangnya adalah juga pencerminan kalau beliau adalah keturunan Raja Kediri. Gelar Sri adalah merupakan cerminan gelar para Raja Kediri sebagai leluhur beliau. Sedangkan Nararya berarti yang mulia diantara orang-orang atau keturunan raja. Arya berarti terhormat, terpandang, mulia atau ningrat. (Suhardana, 2005 : 34).

Pada waktu Dalem memegang tampuk pemerintahan di Bali bangsawan yang paling penting adalah patih, yakni tangan kanan dan sekaligus penasehat Dalem. Semua patih berasal dari keturunan Klan Arya Kepakisan dan di dalam hirarki mereka menduduki posisi kedua ; hanya Dalem dari Gelgel saja yang menjadi atasan mereka. Raja-raja Mengwi selanjutnya menelusuri garis keturunannya kedalam klan Arya Kepakisan ini (Henk Schulte Nordholt, 2006 : 24 – 25).

Sri Nararya Kresna Kepakisan mempunyai dua orang putra, masing-masing bernama pangeran Nyuhaya (Kiayi Agung Nyuh Aya) dan Pangeran Made Asak.

Pangeran Nyuhaya mempunyai dua orang istri dari istri pertama lahir : Kiyai Petandakan, Kiyai Satra, Kiyai Pelangan, Kiyai Akah, Kiyai Keloping, Kiyai Cacaran, Kiayi Anggan (lihat lampiran) dan Kiayi Ayu Adi (wanita). Sedangkan dari istri kedua lahir : I Gusti Wyh Nyuhaya, I Gusti Ngh Nyuhaya dan I Gusti Ketut Nyuhaya. Kisah selanjutnya tidak diceritakan disini karena tema pembicaraan lebih dipusatkan kepada pangeran Made Asak yang menurunkan pasemetonan yang tergabung dalam wadah Swa Wandawa Sembung Karangjung.

Pangeran Made Asak dalam perjalanan sejarahnya diceritakan sebagai orang yang senang mengembara. Ada dua versi tentang kebiasaan Pangeran Made Asak senang mengembara. Pertama karena memang ada tugas khusus dari raja untuk mengetahui aspirasi masyarakat dan para raja di Bali mengenai kesetiaannya kepada Majapahit. Kedua karena memang tidak ada kecocokan antara Pangeran Made Asak dengan kakaknya Pangeran Nyuhaya.

Pengembaraan Pangeran Made Asak telah mengantarkan dirinya sampai ke desa Kapal. Disini beliau menikah dengan seorang putri dari Patih Tuwa pangeran Kapal dan di karunia seorang putra bernama Kiayi Dhiler, atau dikenal pula dengan nama Krian Dukuh atau Krian Dauh Nginte (Krian Agung Manginte) yang kemudian menjadi perdana Menteri (Patih Agung) Dalem Pemayun Bekung dan Dalem Dimade di Gelgel (sekitar tahun 1550-1580). Dari perkawinannya dengan putri Patih Tuwa Pangeran Kapal, lahirlah dua orang putra masing-masing bernama Kiyai Agung Widhia dan Kiyai Kaler Pranawa. (Lihat Lampiran: 1.3). Keturunan Pangeran Made Asak ini rupanya tidak pernah terhindar dari peperangan-peperangan. Mulai dari Krian Dauh Nginte yang berhasil menjadi Perdana Mentri Dalem Pemayun melalui perang sengit menghadapi patih sebelumnya Kiyai Agung Batanjeruk. Jabatan patih Agung kemudian dipegang oleh putra Kyai Agung Manginte yang bernama Kiyai Agung Widia, sedangkan adiknya Kiayi Kaler Pranawa diangkat sebagai Demung. Kiyai Agung Widia mempunyai delapan putra, masing-masing bernama : Kiayi Agung Kidung (Bekung) yang kemudian menjadi Patih Agung menggantikan ayahnya, Kiayi Kalanganyar, Kiayi Batulepang, Kiayai Basang Tamiang, Kiayai Karang Amla, Kiayai Istri Bakas, Kiayai Istri Kacang Pawos, Kiayai Istri Rimba.

Sedangkan Kiyai Kaler Pranawa mempunyai empat belas orang putra-putri, masing-masing : Kiyai Panida (kemudian menggantikannya menjadi Demung), Kiayai Wayahan Kamasan, Kiyai Sibetan, Kiyai Sampalan, Kiyai Tambesi, Kiyai Teges, Kiyai Ubud, Kiyai Basangkasa dan lima orang putri lainnya yang masing-masing menikah dengan Dalem, menikah ke sidemen, ke Sukaret, ke Bontiris dan Kubu Tambahan.

Begitulah generasi Kiyai Made Asak ke generasi berikutnya terus berlanjut sampai kemudian salah seorang diantaranya yaitu Kyai Agung Dimade merebut kekuasaan terhadap raja Gelgel yang kemudian menobatkan dirinya dengan gelar I Gusti Agung Maruti. Perebutan kekuasaan terpaksa dilakukan karena melihat lemahnya pemerintahan Dalem dan kehidupan rakyat yang semakin menderita serta persaingan pengaruh terhadap raja dikalangan pejabat tinggi kerajaan.

Tapi kudeta harus pula ditebus dengan kudeta. Kekuasaan I Gusti Agung Maruti akhirnya tergusur melalui perebutan kekuasaan kembali oleh Dalem yang dilakukan I Gusti Agung Jambe Putra Bungsu Dalem Dimade.

Melalui pertempuran sengit, pasukan I Gusti Agung Jambe yang dibantu oleh laskar Sidemen, Buleleng, Badung, Taman Bali dan lain-lain akhirnya berhasil menyingkirkan I Gusti Agung Maruti dan keluarganya. Sejak saat itu pula pusat kerajaan yang tadinya berada di Gelgel dipindahkan ke Semarapura. Akibat perebutan kekuasaan tersebut I Gusti Agung Maruti yang sempat memerintah selama 30 tahun (1656-1686) merelakan saudara-saudara dan para pendukungnya melarikan diri bercerai berai tidak menentu. Banyak terpaksa melepas gelar kebangsawanannya (nyineb wangsa) untuk tidak dikenali oleh pengikut Dalem. Mereka tersebar kemana-mana, ada yang ke Jimbaran, Desa Sayan, Suwung, Batuyang, Kapal, Keramas, Celuk Penebel, Klungkung, Buleleng, Gianyar dan lain-lain.

Rupanya derita itu akhirnya membawa nikmat juga karena keturunan I Gusti Agung Maruti pula kemudian yang menjadi cikal bakal kelahiran kerajaan Mengwi (I Gusti Agung Made Agung), di samping kelahiran Puri Keramas ( I Gusti Agung Putu Agung).

Ada kisah menarik dari tokoh I Gusti Agung Putu Agung dan I Gusti Agung Made Agung ini.

Dalam babad Mengwi diceritakan bahwa I Gusti Agung Putu Agung memiliki adik masing-masing bernama I Gusti Istri Ayu Made dan I Gusti Agung Made Agung. Versi lain menyebutkan beliau empat bersaudara yaitu saudara perempuan terkecil bernama I Gusti Agung Istri sasih menikah dengan Brahmana Kemenuh. I Gusti Istri Ayu Made terkena sakit bingung, tidak tahu akan dunia dan Puri Keramas. Banyak para ahli obat datang memberikan pertolongan tetapi tidak ada yang mampu mengobatinya. Mendengar keadaan ini lalu I Gusti Agung Made Agung yang pada waktu itu berkuasa di Kapal, meminta ijin agar kakaknya itu bisa diobati ke Kapal. Dengan seijin kakaknya itu pula lalu I Gusti Istri Made diajak ke Kapal untuk selanjutnya dimohonkan bantuan pengobatan kepada seorang Bhiksu sang pandhya Wanasara. Dengan kemampuan sang Pandita ini pula, I Gusti Istri Ayu Made dapat disembuhkan. Namun setiap kali sang Pandita pergi meninggalkan tempat, penyakit I Gusti Istri Ayu Made selalu saja kambuh lagi. Akhirnya dengan persetujuan I Gusti Agung Made Agung, sang Pandhita dinikahkan dengan I Gusti Istri Ayu Made. Sejak itu pula penyakit I Gusti Istri Ayu Made tidak pernah kambuh lagi bahkan mereka tampak hidup rukun dan bahagia. Tapi sayang, I Gusti Agung Putu yang mendapat khabar gembira itu merasa sangat tersinggung berat dan sangat marah karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya sama sekali kepada beliau. Kemarahan yang memuncak dan tidak terkendalikan itu berakibat fatal dengan dibunuhnya sang pandita oleh I Gusti Agung Putu yang berkuasa di Keramas. Akibatnya Sang Pandita sebelum sampai ajalnya mengeluarkan kutukan yang antara lain berisi bahwa I Gusti Agung Putu sampai turunannya tidak akan pernah bisa menjadi raja karena membunuh pendeta yang tidak berdosa. Disamping itu kepada I Gusti Agung Made Agung dan turunannya terkena pula kutukan terkena sakit gila yang tidak habis-habisnya, karena mempersembahkan adiknya kepada pandita waktu sakit gila. Kematian sang pandita tentu saja membuat rasa terkejut yang sangat dalam di hati I Gusti Agung Made Agung. Rasa duka yang sangat dalam dari I Gusti Agung Made Agung menyebabkan pula beliau berikrar bahwa sejak saat itu tali persaudaraan dengan I Gusti Agung Putu terputus sama sekali dan keturunan I Gusti Agung Made Agung yang perempuan tidak lagi diperkenankan memakai nama Made seperti yang dimiliki oleh I Gusti Istri Ayu Made (Babad Mengwi, 2002:27-33).

Kembali mengenai I Gusti Agung Made Agung, dari perkawinannya dengan Ni Gusti Luh Bengkel putri dari Kiyai Bebengan kemudian melahirkan seorang putra yang bernama I Gusti Agung Putu. Dalam kisah selanjutnya, I Gusti Agung Putu sempat dikalahkan dalam sebuah peperangan ketika menghadapi I Gusti Batu Tumpeng yang tinggal di desa Kekeran. I Gusti Agung Putu sempat ditawan dan diserahkan kepada penguasa di Tabanan. Namun tak lama kemudian, I Gusti Agung putu diserahkan kepada penguasa di Marga. Dengan segala suka duka dan romantika kehidupannya, kemudian I Gusti Agung Putu berhasil kembali bangkit dan menundukkan satu demi satu wilayah yang sempat pernah dikuasai sebelum kekalahannya melawan I Gusti Batu Tumpeng. Bahkan perang tanding melawan Pasek Badak dari Buduk dengan mempertaruhkan negerinya dan rakyatnya masing-masing sempat dimenangkan I Gusti Agung Putu. Begitu luasnya kekuasan beliau (sampai ke Blambangan Jawa Timur), lalu beliau di beri gelar I Gusti Agung Ngurah Agung Bima Sakti (Cokorda Sakti Blambangan) dan dinobatkan sebagai raja Mengwi I. Beliau mempunyai beberapa orang istri, masing-masing bernama I Gusti Ayu Pandji (memiliki dua orang putra yaitu I Gusti Agung Ratu Pandji dan I Gusti Agung Ketut Buleleng) ; 2. Ni Gusti Luh Pacung (memiliki putra I Gusti Agung Pacung dan I Gusti Agung Ayu Pacung) ; 3. I Gusti Luh Kamasan (memiliki putra angkat I Gusti Agung Made Kamasan) ; 4. I Gusti Luh Penarungan (memiliki putra I Gusti Agung Wayan Penarungan); 5. I Gusti Luh Mambal (memiliki putra I Gusti Agung Made Mambal dan I Gusti Agung Ketut Lebah); 6. I Gusti Luh Toya Anyar (memiliki putra I Gusti Agung Made Banyuning, berperan di Desa Sayan yang kemudian pindah ke Bongkasa dan I Gusti Agung Ayu Suci yang dijodohkan dengan I Gusti Agung Wayahan Dawan (terkenal pula dengan nama I Gusti Agung Gede Jelantik, seorang putra Raja Karangasem keturunan Pangeran Nyuh Aya). Sedangkan dari permaisuri yang ketujuh yaitu I Gusti Luh Alangkajeng memiliki putra I Gusti Agung Ayu Alangkajeng, I Gusti Agung Made Alangkajeng dan I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng (lihat lampiran: 1.3 dan 1.4).